Recent Posts



Enjoy BANGKOK - PATTAYA selama 4 HARI cuma Rp 2,800,000/Orang

4H3M BANGKOK PATTAYA SUPERSAVE

SUDAH TERMASUK:
- Transportasi Private sesuai program
- Hotel Pratunam Pavilion *3 Bangkok (2 Malam)
- Hotel Holiday Resort *3 Pattaya (1 Malam)
- Sarapan Pagi 3x, Makan Siang 2x, Dinner 1x
- Wisata: Wat Arun, Chao Phraya River, Gems Factory, Leather Factory, Laser Buddha Temple, Silverlake Grape Farm, Honey Jelly Farm, Pattaya Floating Market, Drye Seafood Market, Herb Center, Four Face Buddha, & Asiatique Riverfront
- Optional Tour: Alcazar/Thai Traditional Massage dll
- Guide

KONDISI:
- Belum termasuk: Tiket Pesawat, Tipping Guide, Belanja, optional tour
- Min 5 Orang Peserta
- Berangkat Low Season 2016

mbakdesi.com Tour & Travel
Jalan Kapal Pandu 2 No 1
Greenland Temputu
Bontang Utara
WA : +6281228801199
BBM : 7C304505
Twitter : @MbakDesi
Facebook : mbakdesi.com




Daftar Paket Wisata Bangkok Pattaya Berangkat Dari Bontang

By Unknown → Jumat, 08 April 2016
Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali

MEMULAI hari terakhir wisata di Bali, setelah sarapan dan segera cek-out dari hotel, saya bersama teman yang lain melanjutkan perjalanan menuju Tanah Lot. Janjian pukul 09.00 tetapi baru bisa berkumpul pukul 10.00, ya kebiasaan ngaret orang Indonesia.

Kali ini wisata saya lakukan bersama kedua teman, sedangkan seorang teman harus pulang lebih dulu karena alasan pekerjaan. Praktis, saya bersama kedua orang teman, Bli Eko dan juga sang supir.

Saya akan meng-skip cerita di Tanah Lot, buat saya tempat ini sama seperti sepuluh tahun lalu. Kami melanjutkan menuju kawasan Bedugul. Tapi karena permintaan teman yang ingin mencari arak Bali dan juga kopi Bali, kami menuju jalan raya Denpasar-Bedugul, Desa Perean, Baturiti, Tabanan-Bali. (Baca: Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak (1))

Di tempat ini kami disuguhkan aktivitas pembuatan kopi asli Bali. Memang kawasan ini banyak ditumbuhi pohon kopi jenis arabika. Bahkan tersedia pula kopi luwak yang dikenal mahal. Kopi luwak di tempat ini pun juga diproduksi sendiri, tak heran jika terdapat empat ekor binatang luwak atau musang.

Aroma kopi yang disangrai menemani kunjungan kami. Tak hanya kopi, rempah-rempah untuk kebutuhan pembuatan the juga tersedia.

Beruntung di tempat ini disediakan tester dari semua minuman yang diproduksi sendiri. Seperti curcuma tea, mocha tea, mangosteen tea, coconut coffee, saffron tea, red rice tea, pandanus tea, cocoa, kopi bali, kopi ginseng, lemon grass tea, dan juga ginger tea.

Tapi sayang tester untuk kopi luwak dihargai Rp 50 ribu ukuran gelas kecil. Daripada mengeluarkan Rp 50 ribu, saya memilih merasakan tester yang disediakan secara gratis. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Pasir Putih Pantai Pandawa (2))

Satu toples kecil kopi luwak dibanderol Rp 300 ribu. Sedangkan kopi Bali yang dikemas sederhana menggunakan paper bag berwarna coklat hanya Rp 16 ribu saja. Tak hanya berbagai cemilan oleh-oleh khas Bali, untuk minuman teh dibanderol Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu.

Puas berbelanja oleh-oleh di sini kami melanjutkan tur ke Bedugul tepatnya di kawasan Ulun Danu Beratan. Setelah makan siang, kami menikmati pura di sini. Meski tak bisa berfoto di dalam pura, menikmati alam sekitar danau yang dingin juga dapat menentramkan hati.


Tapi sayang kabut yang turun, disertai gerimis membuat kami harus bergegas untuk kembali ke pusat kota. Perjalanan yang dirasa agak lama, membuat saya tertidur, sepertinya bukan hanya saya, kecuali sang supir kami semua seperti disihir untuk mengantuk dan tertidur selama perjalanan.

Satu jam rasanya saya dan yang lain tertidur. Kami tiba di Kuta, tepatnya di kawasan Sunset Road, di pusat oleh-oleh Agung Bali.


Beli oleh-oleh untuk kawan di kantor, keluarga, dan diri sendiri. Benar-benar kalap rasanya, murah, lengkap, dan menyenangkan.


Setelah dua jam memilih, menimbang, dan akhirnya memutuskan untuk membeli oleh-oleh dan titipan teman. Kami diantar Bli Eko menuju bandara, bersiap kembali pulang ke Kalimantan, dan kembali bertugas untuk esok hari. (*)
Via : Tribun News
Tags:

Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali

By Unknown → Sabtu, 31 Oktober 2015
Menyusuri Pulau Dewata: Pasir Putih Pantai Pandawa

TUJUAN selanjutnya adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). Ini kunjungan ketiga saya di tempat ini, tak ada yang berubah. Patung Dewa Wisnu masih ditempatkan terpisah dengan patung Garuda.

Proyek ini bisa dibilang proyek lama pemerintah provinsi Bali sejak 2003, dan belum selesai sampai sekarang. Niat awal pemerintah Bali adalah mendirikan patung untuk menyaingi Liberty yang ada di Amerika. Tapi entah kenapa, proyek ini seakan mandeg di tengah jalan.

Tiket masuk yang ditawarkan pengelola GWK adalah untuk pelajar Rp 40 ribu, dewasa Rp 50 ribu, wisatawan asing Rp 100 ribu. Sayang, cuaca Bali hari itu, sangat panas, untuk berfoto saja kami harus menutup mata karena silaunya cahaya matahari. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak (1))

Sejujurnya kunjungan ke sini cukup membosankan, tapi sudah masuk dalam jadwal tur yang dipesan oleh seorang kawan. Setengah jam menikmati GWK, kami langsung menuju sebuah pantai. Kawasan yang untuk pertama kalinya saya singgahi di Bali, Pantai Pandawa.

Pantai ini, masih di kawasan Bali Selatan, Kabupaten Badung. Pantai ini unik, terletak di balik perbukitan kapur. Bahkan beberapa meter memasuki kawasan parkir, kita akan disuguhkan patung dari lima ksatria dari epos Hindu yang terkenal Mahabarata, Pandawa dan juga sang ibunda, Dewi Kunthi.

Patung ini dipahat dari batu kapur, lalu diletakkan dalam tebing yang sedikit dilubangi untuk meletakkan patung-patung itu. Lima patung Pandawa diletakkan bertingkat, dengan patung Dewi Kunthi yang diletakkan pertama kalinya. Berurutan putra pertama Pandawa, Yudistira, dan terakhir adalah Sadewa. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali (3))

Tiba di parkiran, cuaca benar-benar panas. Cahaya matahari cukup menyengat kulit dan ubun-ubun kepala. Meski Bli Eko menawarkan payung untuk kami, tapi saya sendiri memilih untuk menutupi kepala menggunakan jaket. Menuju pasir pantai yang putih, suasana sangat ramai.

Air laut di pantai ini benar-benar biru. Didukung dengan pemandangan langit biru, semakin menambah keindahan kawasan ini. Pengelola pun menyediakan payung di sekitaran pantai, dan juga penyewaan kano.

Cukup 45 menit kami berada di Pantai Pandawa. Kami menyudahi wisata hari pertama di Bali itu. Selanjutnya perut yang keroncongan sedari pagi, kami isi dengan menikmati ayam kampung Betutu khas Bali yang terdapat di Kuta. Melelahkan, semoga besok lebih menyenangkan.(*)
Via : tribun news
Tags:

Menyusuri Pulau Dewata: Pasir Putih Pantai Pandawa

By Unknown →
Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak

BALI, siapa yang tak mengenal pulau dengan sebutan pulau seribu pura ini. Setelah sepuluh tahun kemudian, akhirnya saya menjejakkan kaki untuk ketiga kalinya di pulau itu. Meski hanya semalam dua hari, tapi perjalanan singkat di Bali memunculkan cerita baru lagi.

Mungkin saya juga harus berterimakasih kepada kantor yang memberi kesempatan saya untuk menikmati Bali sebentar. Menggunakan jadwal penerbangan paling pagi dari Balikpapan, saya bersama kedua teman tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai lebih cepat 35 menit dari waktu kedatangan yang tertulis di tiket. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Pasir Putih Pantai Pandawa (2))

Bali cerah di hari libur itu. Namun menurut Bli Eko, seorang tour guide yang menemani wisata kami di Bali, malam sebelumnya Bali diguyur hujan. Terlihat dari sisa-sisa genangan air di jalanan Bali.

Selepas landing, kami bertolak menuju hotel. Kebetulan kawasan hotel berada di pusat wisata belanja Bali, jalan Kartika Plaza, Kuta. Bukan segera check-in kami hanya menitipkan barang di resepsionis, dan menjemput seorang kawan lagi yang sudah lebih dulu berada di Bali malam sebelumnya.

Kami berempat, ditambah Bli Eko dan sang supir, menuju kawasan wisata pertama, di Bali Selatan, Uluwatu. Kawasan Bali Selatan, dari penuturan Bli Eko, dianggap sebagai kaki-nya Bali. "Kalau kepalanya Bali, itu ada di utara, tepatnya di kawasan Singaraja," jelas Bli Eko memberi penjelasan pada kami. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali (3))

Uluwatu menurut website yang saya buka selama perjalanan, masih dalam wilayah Kecamatan Kuta, Desa Pecatu, Kabupaten Badung, sekitar 25 km ke arah selatan dari wilayah wisata Kuta.



Perjalanan saya dari hotel, menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit lamanya. Tiba di Uluwatu, Bli Eko mengingatkan untuk menjaga barang dari jangkauan monyet ekor panjang yang merupakan penunggu tetap kawasan pura Uluwatu. "Monyet di sini nakal, suka mengambil barang turis. Jadi harus waspada dan hati-hati," peringatan Bli Eko saat memasuki loket karcis masuk kawasan wisata Pura Uluwatu.

Dengan tiket dewasa Rp 20 ribu, dan anak-anak Rp 10 ribu, kita dapat menikmati lautan lepas yang merupakan Samudera Hindia. Sebelum masuk kawasan, kita akan melihat papan peringatan untuk turis, agar tidak membawa barang yang mudah diambil monyet ekor panjang, seperti kacamata, anting, maupun ikat rambut.

Syarat utama memasuki kawasan ini, bagi wisatawan yang mengenakan celana panjang harus mengikatkan selendang di pinggang. Bagi yang mengenakan celana pendek harus menggunakan kain panjang, yang dililit di pinggang menyerupai sarung.

Pura Uluwatu menurut Bli Eko, sudah dibangun sejak abad ke-16 oleh seorang pendeta Hindu, Danghyang Nirarta, yang juga pendiri kawasan Tanah Lot. Ulu sendiri berarti di atas atau kepala, lalu watu adalah batu. Maknanya, sebuah pura yang didirikan di atas batu karang, dan menghadap langsung ke Samudera.

Suasana di seputaran Pura Uluwatu benar-benar tenang, diiringi dengan suara deburan ombak samudera di bawahnya, rasanya benar-benar tenang. Tapi sayang, kami para wisatawan dilarang masuk ke kawasan pura kalau tidak untuk kepentingan berdoa.

Sebenarnya, waktu yang paling tepat mengunjungi kawasan wisata ini adalah sore hari. Selain dapat menikmati matahari terbenam, kita pun juga disuguhkan dengan hiburan tari Kecak. Tapi, ya sudahlah, toh saya sudah cukup puas ke tempat ini menikmati suara ombak, dan angin laut, ditemani monyet-monyet nakal yang kapan saja bisa mengambil barang.
Via : Tribun News
Tags:

Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak

By Unknown →
Di Kabupaten Ini, Tersimpan Potensi Wisata Pantai yang Mirip Hawaii

Plesiran ke pantai merupakan satu di antara destinasi wisata favorit. Baik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pantai-pantai baru yang dibuka dari lahan Perhutani di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mempunyai potensi wisata yang luar biasa. Pemerintah menyebut pantai yang dibuka sebagai "Hawaii-nya Indonesia".

Bupati Kebumen M Arief Irwanto mengatakan, garis pantai selatan yang panjang membujur di wilayah Kabupaten Cilacap hingga Purworejo menyumbang destinasi wisata alam bagi Kebumen. Garis pantai yang panjang, pasirnya yang eksotis, hingga panorama alamnya yang belum terjamah.

"Pantai Maganti ini kayak Hawai. Indah, dan ini sudah dibuka," kata Arief, Jumat (30/10/2015).

Hanya saja, kata Arif, perbaikan infrastruktur wisata belum terbangun dengan baik. Ia menyebut, akses jalan misalnya masih banyak yang rusak sehingga hal tersebut butuh perbaikan.


"Obyek wisata ini memang baru dibuka. Aksesnya masih sulit. Saya ingin Kades ke pantai ini agar bisa tahu, biar nanti bisa ikut mempromosikan, dan jalannya mulus," tambah Arif.

Ada beberapa pantai baru yang dibuka, melengkapi pantai-pantai lama. Sejumlah pantai di Kebumen misalnya yang populer, Pantai Karang Bolong, Pantai Menganti, Pantai Ayah, Pantai Pecaron, Pantai Pasir.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap agar potensi daerah bisa dimunculkan sebaik-baiknya. Ia pun berjanji pada 2016, anggaran pembangunan infrastruktur diarahkan untuk akses menuju wisata.

"Untuk membangun wilayah, kita sangat butuh investor. Tahun depan, infrastruktur untuk sektor pariwisata," timpal Ganjar.

Selain itu, Ganjar juga meminta agar warga setempat menyiapkan fasilitas penunjang pariwisata. Ia ingin keindahan, kebersihan serta kuliner khas daerah setempat bisa terus dijaga.

"Saya ingin, ketika orang lihat pantai, bisa nikmati kuliner. Itu yang sangat luar biasa. Potensi harus dikembangkan," imbuhnya. (Nazar Nurdin)
Tags:

Di Kabupaten Ini, Tersimpan Potensi Wisata Pantai yang Mirip Hawaii

By Unknown →
Ketimbang Tokyo, Bali Jadi Pilihan Orang Kaya di Dunia Berlibur

Media Relaxnews yang dibuat di Jepang, Jumat (31/7/2015) kemarin menerbitkan peringkat tempat-tempat yang disinggahi dan ditinggali para wisatawan berduit dunia termasuk orang kaya Jepang. Bali masuk peringkat ke-9 dengan lama tinggal rata-rata 10 hari baik di resort maupun hotel mahal.

Orang kaya ternyata lebih banyak memilih Bali Indonesia ketimbang jalan-jalan lama ke Tokyo Jepang yang berada di peringkat ke-11.

Peringkat pertama menginap dunia bagi orang kaya ini ternyata diduduki oleh Seoul Korea Selatan dengan lama menginap rata-rata 13 hari.

Kota populer kedua yang jadi banyak sasaran kalangan wisatawan kaya dunia adalah Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) dengan rata-rata menginap selama 12,7 hari.

Tempat ketiga yaitu Milano (Milan), Italia dengan lama menginap rata-rata 12,3 hari. Baru kemudian Athena di Yunani dengan rata-rata menginap 11,5 hari dan peringkat kelima Singapura rata-rata 11,1 hari.

Di peringkat ke-enam adalah Frankfurt Jerman dengan lama menginap rata-rata 11 hari. Menyusul Sao Paulo, Brasil rata-rata menginap selama 10,6 hari.

Peringkat ke-8 adalah Hong Kong, Cina rata-rata 10,6 hari, barulah Bali Indonesia dan Lisbon Portugal di peringkat ke-10 dengan lama menginap rata-rata 9,7 hari.

Tokyo Jepang hanya jadi sasaran menginap ke-11 dengan rata-rata menginap 9,2 hari, kemudian pilihan ke-12 di Crete, Yunani (9,2 hari).

Pilihan ke-13 di Mykonos Island, Yunani (8,7 hari), ke-14 di Roma Italia (8,5 hari) dan pilihan atau peringkat ke-15 ke Miami Amerika Serikat dengan lama menginap rata-rata 8,3 hari. (Richard Susilo)
Tags:

Ketimbang Tokyo, Bali Jadi Pilihan Orang Kaya di Dunia Berlibur

By Unknown →
Pulau Beras Basah, Surga Liburan untuk Melarikan Diri



Berkunjung ke Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), tak cukup jika tidak mencicipi wisata laut di Pulau Beras Basah Bontang. Pulau tersebut merupakan pulau cantik yang dipenuhi pasir putih.

Jarak antara Kota Bontang dan Pulau Beras Basah berkisar 12 kilometer dengan lama perjalanan satu jam menggunakan kapal ketinting dari Pelabuhan Tanjung Laut, Bontang. Aktivitas yang paling digemari wisatawan adalah snorkeling dan menyelam. Sebab di sekeliling pantai dihuni terumbu karang atau koral berwarna-warni. Ada pula koral cangkokan yang sengaja ditanam oleh Pemerintah Kota Bontang.

Selain itu, banyak pula ditemukan berbagai jenis ikan hias yang berenang di sela-sela koral. Pulau tersebut dijaga oleh nelayan pencari ikan. Nelayan juga menjual air tawar bagi wisatawan yang ingin membilas badan setelah berenang.

Ada pula mercusuar yang tinggi menjulang di sisi kiri pulau. Mercusuar ini berfungsi menjadi tiang lampu yang memberi cahaya pada nelayan pada malam hari. Bagi wisatawan lokal, Pulau Beras Basah merupakan surga liburan yang paling murah dan dekat. Pantainya tenang dan berpasir warna seputih beras. Banyak pohon kelapa di sekeliling pulau. Jika beruntung, bisa langsung menikmati kelapa muda gratis. Tentu ambil sendiri kelapa yang diinginkan.


Pulau ini juga bisa dijadikan tempat pesta lampion kala tahun baru. Ombaknya yang tidak terlalu besar sangat mengundang siapa saja yang berkunjung untuk berlama-lama di dalam air. Selain itu, pemandangan bawah laut seolah bisa diintip melalui kejernihan air lautnya.

"Pulau Beras Basah adalah destinasi wisata laut yang paling dekat dari Samarinda, ibu kota Kaltim. Aksesnya mudah dan paling asyik kalau ke sana beramai-ramai," kata Frisca Dwistani Puteri, salah seorang wisatawan lokal asal Samarinda, (2/6/2015).


Usut punya usut, konon kabarnya nama Pulau Beras Basah berasal dari sebuah kapal pengangkut beras yang pernah singgah di kawasan tersebut. Kapal tersebut membawa beras dari Pulau Sulawesi yang membuang seluruh isi muatannya karena takut tenggelam. Bagi warga Bontang, Pulau Beras Basah adalah tempat melarikan diri dari kebosanan Kota Bontang yang merupakan kota industri.

Pulau Beras Basah dapat menjadi tempat rekreasi yang tepat. Setiap akhir pekan Pulau Beras Basah pasti ramai. Saya juga sering berkemah dengan teman-teman Free Diving dari Samarinda di sana,” lanjut Friska.

Jika ingin menginap di pulau tersebut, wisatawan tidak perlu khawatir. Sebab, Pemkot Kota Bontang juga membangun beberapa gazebo yang bisa ditiduri. Ada pula surau tempat ibadah, dan beberapa kios nelayan yang berjualan minuman dan makanan ringan.

“Banyak gazebo yang bisa dijadikan tempat tidur, tapi kalau saya lebih menikmati wisata dengan berkemah. Ada pula teman-teman saya yang memilih untuk tidur di atas hammock. Anginnya sepoi-sepoi, dan sangat asyik jika mengadakan pesta api unggun,” ungkap Friska seraya tersenyum.

Pulau Beras Basah, Surga Liburan untuk Melarikan Diri

By Unknown →