Tags:

Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali

By Unknown → Sabtu, 31 Oktober 2015
Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali

MEMULAI hari terakhir wisata di Bali, setelah sarapan dan segera cek-out dari hotel, saya bersama teman yang lain melanjutkan perjalanan menuju Tanah Lot. Janjian pukul 09.00 tetapi baru bisa berkumpul pukul 10.00, ya kebiasaan ngaret orang Indonesia.

Kali ini wisata saya lakukan bersama kedua teman, sedangkan seorang teman harus pulang lebih dulu karena alasan pekerjaan. Praktis, saya bersama kedua orang teman, Bli Eko dan juga sang supir.

Saya akan meng-skip cerita di Tanah Lot, buat saya tempat ini sama seperti sepuluh tahun lalu. Kami melanjutkan menuju kawasan Bedugul. Tapi karena permintaan teman yang ingin mencari arak Bali dan juga kopi Bali, kami menuju jalan raya Denpasar-Bedugul, Desa Perean, Baturiti, Tabanan-Bali. (Baca: Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak (1))

Di tempat ini kami disuguhkan aktivitas pembuatan kopi asli Bali. Memang kawasan ini banyak ditumbuhi pohon kopi jenis arabika. Bahkan tersedia pula kopi luwak yang dikenal mahal. Kopi luwak di tempat ini pun juga diproduksi sendiri, tak heran jika terdapat empat ekor binatang luwak atau musang.

Aroma kopi yang disangrai menemani kunjungan kami. Tak hanya kopi, rempah-rempah untuk kebutuhan pembuatan the juga tersedia.

Beruntung di tempat ini disediakan tester dari semua minuman yang diproduksi sendiri. Seperti curcuma tea, mocha tea, mangosteen tea, coconut coffee, saffron tea, red rice tea, pandanus tea, cocoa, kopi bali, kopi ginseng, lemon grass tea, dan juga ginger tea.

Tapi sayang tester untuk kopi luwak dihargai Rp 50 ribu ukuran gelas kecil. Daripada mengeluarkan Rp 50 ribu, saya memilih merasakan tester yang disediakan secara gratis. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Pasir Putih Pantai Pandawa (2))

Satu toples kecil kopi luwak dibanderol Rp 300 ribu. Sedangkan kopi Bali yang dikemas sederhana menggunakan paper bag berwarna coklat hanya Rp 16 ribu saja. Tak hanya berbagai cemilan oleh-oleh khas Bali, untuk minuman teh dibanderol Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu.

Puas berbelanja oleh-oleh di sini kami melanjutkan tur ke Bedugul tepatnya di kawasan Ulun Danu Beratan. Setelah makan siang, kami menikmati pura di sini. Meski tak bisa berfoto di dalam pura, menikmati alam sekitar danau yang dingin juga dapat menentramkan hati.


Tapi sayang kabut yang turun, disertai gerimis membuat kami harus bergegas untuk kembali ke pusat kota. Perjalanan yang dirasa agak lama, membuat saya tertidur, sepertinya bukan hanya saya, kecuali sang supir kami semua seperti disihir untuk mengantuk dan tertidur selama perjalanan.

Satu jam rasanya saya dan yang lain tertidur. Kami tiba di Kuta, tepatnya di kawasan Sunset Road, di pusat oleh-oleh Agung Bali.


Beli oleh-oleh untuk kawan di kantor, keluarga, dan diri sendiri. Benar-benar kalap rasanya, murah, lengkap, dan menyenangkan.


Setelah dua jam memilih, menimbang, dan akhirnya memutuskan untuk membeli oleh-oleh dan titipan teman. Kami diantar Bli Eko menuju bandara, bersiap kembali pulang ke Kalimantan, dan kembali bertugas untuk esok hari. (*)
Via : Tribun News

Post Tags:

Blogger Bontang

I'm Blogger Bontang. A full time web designer. I enjoy to make modern template. I love create blogger template and write about web design, blogger. Now I'm working with www.wisatabontang.com. You can buy our templates from Themeforest.