Tags:

Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak

By Unknown → Sabtu, 31 Oktober 2015
Menyusuri Pulau Dewata: Nikmati Deburan Ombak & Tari Kecak

BALI, siapa yang tak mengenal pulau dengan sebutan pulau seribu pura ini. Setelah sepuluh tahun kemudian, akhirnya saya menjejakkan kaki untuk ketiga kalinya di pulau itu. Meski hanya semalam dua hari, tapi perjalanan singkat di Bali memunculkan cerita baru lagi.

Mungkin saya juga harus berterimakasih kepada kantor yang memberi kesempatan saya untuk menikmati Bali sebentar. Menggunakan jadwal penerbangan paling pagi dari Balikpapan, saya bersama kedua teman tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai lebih cepat 35 menit dari waktu kedatangan yang tertulis di tiket. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Pasir Putih Pantai Pandawa (2))

Bali cerah di hari libur itu. Namun menurut Bli Eko, seorang tour guide yang menemani wisata kami di Bali, malam sebelumnya Bali diguyur hujan. Terlihat dari sisa-sisa genangan air di jalanan Bali.

Selepas landing, kami bertolak menuju hotel. Kebetulan kawasan hotel berada di pusat wisata belanja Bali, jalan Kartika Plaza, Kuta. Bukan segera check-in kami hanya menitipkan barang di resepsionis, dan menjemput seorang kawan lagi yang sudah lebih dulu berada di Bali malam sebelumnya.

Kami berempat, ditambah Bli Eko dan sang supir, menuju kawasan wisata pertama, di Bali Selatan, Uluwatu. Kawasan Bali Selatan, dari penuturan Bli Eko, dianggap sebagai kaki-nya Bali. "Kalau kepalanya Bali, itu ada di utara, tepatnya di kawasan Singaraja," jelas Bli Eko memberi penjelasan pada kami. (BACA: Menyusuri Pulau Dewata: Menyaksikan Pembuatan Kopi Bali (3))

Uluwatu menurut website yang saya buka selama perjalanan, masih dalam wilayah Kecamatan Kuta, Desa Pecatu, Kabupaten Badung, sekitar 25 km ke arah selatan dari wilayah wisata Kuta.



Perjalanan saya dari hotel, menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit lamanya. Tiba di Uluwatu, Bli Eko mengingatkan untuk menjaga barang dari jangkauan monyet ekor panjang yang merupakan penunggu tetap kawasan pura Uluwatu. "Monyet di sini nakal, suka mengambil barang turis. Jadi harus waspada dan hati-hati," peringatan Bli Eko saat memasuki loket karcis masuk kawasan wisata Pura Uluwatu.

Dengan tiket dewasa Rp 20 ribu, dan anak-anak Rp 10 ribu, kita dapat menikmati lautan lepas yang merupakan Samudera Hindia. Sebelum masuk kawasan, kita akan melihat papan peringatan untuk turis, agar tidak membawa barang yang mudah diambil monyet ekor panjang, seperti kacamata, anting, maupun ikat rambut.

Syarat utama memasuki kawasan ini, bagi wisatawan yang mengenakan celana panjang harus mengikatkan selendang di pinggang. Bagi yang mengenakan celana pendek harus menggunakan kain panjang, yang dililit di pinggang menyerupai sarung.

Pura Uluwatu menurut Bli Eko, sudah dibangun sejak abad ke-16 oleh seorang pendeta Hindu, Danghyang Nirarta, yang juga pendiri kawasan Tanah Lot. Ulu sendiri berarti di atas atau kepala, lalu watu adalah batu. Maknanya, sebuah pura yang didirikan di atas batu karang, dan menghadap langsung ke Samudera.

Suasana di seputaran Pura Uluwatu benar-benar tenang, diiringi dengan suara deburan ombak samudera di bawahnya, rasanya benar-benar tenang. Tapi sayang, kami para wisatawan dilarang masuk ke kawasan pura kalau tidak untuk kepentingan berdoa.

Sebenarnya, waktu yang paling tepat mengunjungi kawasan wisata ini adalah sore hari. Selain dapat menikmati matahari terbenam, kita pun juga disuguhkan dengan hiburan tari Kecak. Tapi, ya sudahlah, toh saya sudah cukup puas ke tempat ini menikmati suara ombak, dan angin laut, ditemani monyet-monyet nakal yang kapan saja bisa mengambil barang.
Via : Tribun News

Post Tags:

Blogger Bontang

I'm Blogger Bontang. A full time web designer. I enjoy to make modern template. I love create blogger template and write about web design, blogger. Now I'm working with www.wisatabontang.com. You can buy our templates from Themeforest.